Pada masa kelam konflik bersenjata di Aceh, Gampong Simpang Jaya menjadi salah satu saksi bisu dari penderitaan dan kehilangan yang dialami masyarakat. Di tengah kehidupan yang sederhana, para petani, imam, dan ibu rumah tangga mendadak harus menghadapi kekerasan, penculikan, dan kematian yang datang tanpa peringatan. Suasana damai berubah menjadi ketakutan yang membekas hingga kini.
Di hamparan hijau Desa Simpang Jaya, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, kenangan tentang masa konflik masih melekat seperti bayangan yang tak mau pergi. Di balik rimbunan pepohonan di antara bukit-bukit, tersimpan cerita tentang kehilangan, ketakutan, dan keteguhan hati perempuan yang ditinggalkan oleh perang. Mereka bukan pelaku sejarah besar, melainkan saksi kecil dari kekerasan yang mengguncang kehidupan rakyat Aceh di awal tahun 2000-an.
Pada hari itu, Minggu, 3 Agustus 2003, masyarakat Simpang Jaya, Kemukiman Juli Selatan, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Aceh, sedang melakukan gotong royong desa di pinggir jalan seputaran Masjid Hudaibiyah. Sekira pukul 10 pagi, datang mobil reo TNI dan menangkap 4 orang aparatur gampong beserta satu orang masyarakat biasa. Lalu dibawa bersama mereka, dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaanya.
Kelima korban tersebut adalah:
1. Abdurrahman Abdullah (Geusyik/Kepala Desa)
2. Tgk. Ramli Hanafiah (Imam Gampong)
3. Abdurrahman Ali (Kepala Dusun)
4. Ust. Abu Bakar (Tuha Peut)
5. Nurdin Ahman (Masyarakat)
Beberapa saksi atau keluarga korban bercerita. SB (62 tahun) masih mengingat jelas pagi 3 Agustus 2003, ketika suaminya, Tgk. Ramli Hanafiah (RH), imam kampung yang juga dikenal aktif membantu masyarakat, dibawa paksa oleh aparat bersenjata darisatuan marinir. Saat itu, RH (umur 50 tahun saat kejadian), tengah bergotong royong dengan warga membangun sekolah dasar baru—sekolah lama telah dibakar dalam masa konflik. Mobil Reo berhenti di depan lokasi, dan dalam sekejap RH digiring pergi tanpa sempat berpamitan. Seharian penuh SB dan anak-anaknya berlari mencari, hingga ke pos militer di PDAM Bireuen, namun tak pernah menemukan kabar. Sejak hari itu, hidup SB berubah total. Ia menjadi tulang punggung keluarga, bekerja di kebun untuk menyekolahkan enam anak hingga tamat SMA. Ia menolak menjual kisahnya demi bantuan, karena baginya, nyawa suami bukanlah sesuatu yang bisa ditukar dengan uang.
Tak hanya laki-laki yang menjadi korban, para perempuan pun turut menanggung luka. Seorang ibu, MY, dibawa paksa oleh aparat karena dituduh mengetahui keberadaan saudaranya yang menjadi anggota GAM. Ia tak pernah kembali, meninggalkan anak- anak yang masih kecil dalam pelukan neneknya. Para perempuan di Simpang Jaya menjadi pilar keluarga — bekerja di kebun, menafkahi anak-anak, dan menyimpan duka dalam diam. Mereka menjaga kehidupan sekaligus kenangan akan orang-orang yang tidak sempat pulang.
Kisah SB ini mewakili cerita pilu 4 orang korban lainnya yang mengalami hal yang sama dan waktu yang sama juga. Kisah ini hanyalah sebagian kecil dari ratusan cerita serupa yang tersebar di tanah Bireuen. Di desa yang tenang ini, suara kehilangan masih terdengar di antara desir angin sawah. Para istri yang kehilangan suami, anak-anak yang tumbuh tanpa ayah, dan keluarga yang menunggu kepastian tak berujung, semuanya menjadi bagian dari ingatan kolektif Aceh. Mereka hidup dalam kesunyian, namun kisah mereka adalah nyala kecil yang menjaga agar kebenaran tak padam.
Di Simpang Jaya, setiap sore matahari tenggelam di balik bukit Cot Peupok—tempat di mana banyak tangisan pernah tertahan. Namun bagi para perempuan yang bertahan, seperti SB dan sejumlah keluarga korban lainnya, senja bukan lagi tanda duka. Ia menjadi simbol kekuatan dan pengharapan: bahwa meski masa lalu kelam, kenangan tentang mereka yang hilang akan selalu hidup dalam ingatan, dalam doa, dan dalam setiap langkah menuju masa depan yang lebih damai.
Untuk mengenan peristiwa penghilangan paksa tersebut Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh membangun sebuah Balai sebagai monumen peringatan. Monumen ini didirikan sebagai pengingat dan penghormatan bagi seluruh korban kekerasan di Gampong Simpang Jaya dan sekitarnya. Di sini, kita menundukkan kepala mengenang mereka yang pergi tanpa kabar, mereka yang tak sempat berpamitan. Semoga monumen ini menjadi tanda agar tragedi serupa tak pernah terulang — dan menjadi tempat di mana luka masa lalu berangsur pulih oleh kejujuran, keadilan, dan kasih antar sesama.